Al-Fatihah: Kunci Utama Keabsahan Shalat
Surah Al-Fatihah bukan sekadar bacaan pembuka biasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan penegasan yang sangat keras bahwa shalat seseorang dinilai tidak sah tanpa kehadiran surah Al-Fatihah. Dalam hadits sahih riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim, Nabi bersabda:
لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
“Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca Ummul Qur’an (Surah Al-Fatihah).” (HR. Bukhari no. 756 & Muslim no. 394)
Lebih lanjut, dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah, Rasulullah juga memperingatkan:
مَنْ صَلَّى صَلَاةً، لَمْ يَقْرَأْ فيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ، فَهِيَ خِدَاجٌ – ثَلَاثًا – غَيْرُ تَمَامٍ
“Barangsiapa yang shalat lalu tidak membaca Ummul Qur’an (Al-Fatihah), maka shalatnya itu cacat (kurang)—beliau mengulangnya tiga kali—tidak sempurna.” (HR. Muslim no. 598)
Kata khidaj (cacat) dalam hadits ini bermakna rusak secara syariat. Kelalaian dalam membaca Al-Fatihah—terutama jika keliru atau serampangan pada ayat ketujuh—bisa berakibat fatal. Ayat terakhir ini adalah inti dari permohonan petunjuk menuju jalan yang lurus. Jika dibaca tanpa tajwid yang benar dan tanpa tadabur hati, ibadah kita terancam runtuh dan kehilangan pahala di sisi Allah Swt.
Merasakan Kehadiran Allah Lewat Dialog Al-Fatihah
Agar kita tidak lagi membaca Al-Fatihah secara serampangan, kita harus menyadari bahwa Surah Al-Fatihah adalah sebuah dialog interaktif yang langsung dijawab oleh Allah Swt. Dalam sebuah Hadits Qudsi yang agung, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan firman Allah Swt.:
“Aku membagi shalat (Al-Fatihah) antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.” (HR. Muslim)
Imam Muslim merincikan keindahan dialog tersebut sebagai berikut:
- Saat hamba mengucapkan: “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin” (Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam).
Allah Swt. langsung menjawab: “Hamba-Ku telah memuji-Ku.”
- Saat hamba mengucapkan: “Ar-Rahmanir Rahim” (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang).
Allah Swt. langsung menjawab: “Hamba-Ku telah memuji-Ku dengan setinggi-tingginya.”
- Saat hamba mengucapkan: “Maliki yaumiddin” (Pemilik hari pembalasan).
Allah Swt. langsung menjawab: “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.”
- Saat hamba mengucapkan: “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan).
Allah Swt. langsung menjawab: “Ini adalah urusan antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”
- Saat hamba mengucapkan akhir ayat (Ayat ke-7): “Ihdinas-shiraatal mustaqiim, shiraatal ladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghduubi ‘alaihim waladh-dhaalliin” (Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat…).
Allah Swt. langsung menjawab: “Ini untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”
Nah disinilah seringnya shalat disebut sebagai “Mi’rajnya orang mukmin” karena shalat adalah saat untuk menghadap dan berkomunikasi langsung dengan Allah SWT, layaknya perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW saat menerima perintah shalat, pada waktu Isra’ Mi’raj. Oleh sebab itulah kita tidak boleh lalai dalam membaca Surat Al Fatihah. Lalai bukan berarti tidak melakukan aktifitas membacanya, tapi juga memahami maksud dan tujuannya. Tidak hanya sekedar membacanya saja.
Ancaman Bagi yang Lalai :
Predikat Pendusta Agama dan Amal yang Sia-Sia
Ketika seseorang shalat secara serampangan dan mengabaikan dialog agung di atas, Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat mengerikan melalui dua sindiran tajam:
- Sebagai Pendusta Agama (QS. Al-Ma’un):
Allah Swt. berfirman mengenai orang-orang yang lalai terhadap shalatnya (sahun). Al-Qur’an mengaitkan perilaku egois dalam ibadah ini dengan mentalitas pendusta agama karena efektifitas shalatnya tidak membekas menjadi kesalehan sosial maupun spiritual. - Ibadah Shalat yang Sia-sia (QS. Al-Anfal: 35):
Jika shalat dilakukan asal-asalan tanpa ketundukan hati, nilainya akan jatuh seperti ritual kaum jahiliah. Allah menyindir ibadah mereka di sekitar Baitullah dalam firman-Nya: “Shalat mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepukan tangan.” Sungguh merugi jika shalat yang kita dirikan kehilangan nilainya, hingga berubah menjadi sekadar gerakan kosong tanpa makna yang berujung pada kesia-siaan amalan.
Mohon ijin, ngutip keluhan Mbah Yai Gus Mus, dalam syair puisinya berikut ini:
Menuju Jalan Golongan yang Diberi Nikmat
Tujuan utama dari kehati-hatian kita membaca ayat ke-6 dan 7 Surah Al-Fatihah adalah agar kita benar-benar dimasukkan ke dalam jalan keselamatan.
Kutipan QS. Al Fatihah ayat 6 – 7 :
Artinya :
1.6: Tunjukilah kami jalan yang lurus,1
1.7: (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
Ayat ini sangatlah tepat jika dikorelasikan dengan ayat-ayat lain di dalam Al-Qur’an:
Pada akhir surat Al Fatihah kita berd’oa: minta ditunjukkan jalan yanglurus yaitu jalan orang-orang yang telah Allah beri nikmat, bukan jalannya mereka yang dimurkai apalagi mereka yang sesat. Nah kita lihat korelasi antara ayat 6 -7 surat Al Fatihah dan kedua ayat ini QS. 4 :69 dan 3:53)
- Identitas Golongan yang Diberi Nikmat (QS. An-Nisa: 69):
Ayat ini merupakan tafsir penjelas yang paling sempurna bagi frasa “jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat” pada ayat ke-7 Surat Al-Fatihah. Allah mengonfirmasi secara rinci siapa saja mereka:
“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabiyyin (para nabi), Shiddiqin (orang-orang yang jujur), Syuhada (orang-orang yang mati syahid/saksi kebenaran), dan Shalihin (orang-orang yang saleh).”
(Penjelasannya salah satunya dapat dilihat di tafsirquran.id)
- Ikrar Tunduk Total (Muslim Totalitas) (QS. Ali ‘Imran: 53):
Selanjutnya untuk melihat siapakah yang disebut golongan Syahidin/saksi kebenaran? Ayat diatas Allah mengabadikan doa: “…maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (syahidin).” Menjadi golongan syahidin (saksi kebenaran) memerlukan bukti nyata. (silahkan lihat kembali bahasan disini ) . Nah setelah Anda menemukan Identitas diri Anda yang sebenarnya, selanjutnya akan menemukan keutamaan shalat yang sebenarnya.
Shalat adalah “Kunci Utama” Manajemen Urusan Duniawi dan Parameter Keberkahan Hidup
Shalat bukanlah rutinitas jasmani tanpa arti semata. Shalat juga dapat dijadikan simbol atas kualitas keimanan dan keta’atan. Maka Rasulullah SAW, bersabda :
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ الصَّلَاةُ، فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ
Artinya:
“Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka dia akan beruntung dan selamat. Jika shalatnya rusak, maka dia akan celaka dan rugi.”
(HR. At-Tirmidzi no. 413, hadits hasan)
Bahkan tolok ukur kesuksesan hidupmu juga harus dimulai dari shalatmu, dan bukan hanya masalah pribadi tapi ke posisi kolektif lebih tinggi yaitu keluarga! Lihat dan pahami perintah Allah dalam QS. Thaha 20: 132 :
“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.”
Mari kita lihat ketika para sahabat mengalami masalah, maka shalat juga menjadi solusi , seperti kisah Abu Hurairah: yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah mengalami kelaparan yang sangat hebat. Alih-alih pergi mengemis atau mencari pinjaman, tindakan pertama yang beliau lakukan adalah pulang ke rumah dan langsung mendirikan shalat dan berserah diri kepada Allah. Selesai shalat, tiba-tiba ada tetangganya yang mengetuk pintu dan membawakan nampan berisi makanan penuh daging dan roti.
Begitu juga Khalifah Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu menyadari betul bahwa stabilitas suatu wilayah dan kesejahteraan rakyatnya sangat bergantung pada shalat. Maka beliau mengirim surat kepada para gubernurnya:
“Sesungguhnya urusan kalian yang paling penting di mataku adalah shalat. Siapa yang menjaga dan memeliharanya, berarti ia telah menjaga agamanya. Dan siapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk urusan lainnya (termasuk urusan dunia dan pemerintahan) ia akan jauh lebih menyia-nyiakannya lagi.” (Riwayat Imam Malik dalam Al-Muwatta).
Maka dua ayat dalam Al-Qur’an Surat Albaqarah ini memberi kepastian agar kita menjadikan Shalat dan Sabar sebagai penolong. yaitu ayat 45 dan 153:
“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.“
Maka setelah permasalah pribadi,meningkat ke level lebih tinggi yaitu kolektif (keluarga), maka akan meningkat ketingkat lebih tinggi lagi yaitu kolektif yang lebih besar (Sosial), maka dalam QS. 29: 45 yang artinya:
“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar“
Terakhir, ada satu pesan Nabi SAW, yang merupakan nubuwat masa depan :
لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ
الصَّلَاةُ
“Tali ikatan Islam akan putus seutas demi seutas. Setiap kali terputus, manusia akan bergantung pada tali berikutnya. Yang paling awal terputus adalah hukum, dan yang paling akhir adalah shalat.” (HR. Ahmad, disahihkan oleh Syaikh Al-Albani)
Hadits ini, menggambarkan kemunduran pengamalan Syari’at Islam ditengah umat secara bertahap.
Islam diibaratkan simpul yang kokoh , Namun dekadensi moral dan pemikiran umat menyebabkan simpul-simpul syariat menjadi longgar dan lepas satu per satu dari kehidupan nyata. Simpul pertama adalah kekuasaan, sistem pemerintahan, politik dan kedilan, Ketika hukum Allah mulai ditinggalkan diganti dengan hukum buatan manusia, maka fondasi makro islam runtuh. Efek Dominonya menyebabkan simpul lainnya rontok. Sistem ekonomi diganti menjadi sistem ribawi, budaya islami menjadi sekuler dan amanah sosialpun hilang, munculah korupsi, kolusi dan nepotisme dan perbudakan. Akhirnya, Shalatlah yang menjadi benteng terakhir pertahanan seorang muslim. Secara personal jika seseorang berani meninggalkan shalat artinya ikatan Islamnya sudah benar-benar terputus sepenuhnya. Apalagi jika shalat dikaitkan dengan konteks yang lain dimana shalat merupakan simbolisasi sebuah barisan komando yang rapi dan teratur.
Semoga Allah selalu membimbing kita di atas jalan-Nya yang lurus.
