Yang Selamat Dunia dan Akhirat

bismillah
m8

Setelah kita menjadi paham bahwa dalam kehidupan ini ada yang kurang atau salah karena tidak sesuai SOP, bahwa ketika hidup dunia ternyata butuh Supervisi, tidak sak karepe dhewe, semau gue. Silahkan lihat kembali ilustrasinya di bab pertama. Jika sudah paham, kita pelan pelan akan pelajari SOLUSI dari permasalahan yang kita hadapi di bab-bab sebelumnya. Sehingga tercapailah impian yang sering kita ucapkan dalam bentuk do’a : untuk meraih Kebahagiaan dunia dan akhirat.  

2201

 

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”

Sebagai solusinya adalah kita turut mengambil peranan dalam Estafeta Syahadat dan Peran Rasul-rasul (Pewaris Risalah).

Baiklah kita pelajari pelan-pelan ya:

🔑 Solusi : Estafeta Syahadat dan Peran Risalah

A. Manifestasi Estafeta Syahadat dan Keberuntungan Sejati

Setelah melihat fakta bahwa amal orang yang kafir menjadi sia-sia (QS. 18:104-105) dan julukan yang merendahkan (QS. 7:179), solusi dan jalan keselamatan kembali ditegaskan:

  1. Mengikuti Agama Ibrahim yang lurus sehingga kamu disebut MUSLIM, dimana Rasul (SAW) menjadi saksi atas KAMU, dan KAMU menjadi saksi bagi segenap manusia (QS. Al-Hajj [22]: 78)
2278

“…dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu, dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia (di Hari Kiamat). Maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”

Inti Estafeta Syahadat: Ayat ini menetapkan tugas kesaksian (syahadah) yang berantai berkelanjutan (estafeta): Nabi Muhammad SAW (Rasul) menjadi saksi atas umatnya (bahwa Beliau telah menyampaikan risalah dengan sempurna). Selanjutnya Umat Islam (yang menjadi Muslim karenanya) kemudian menjadi saksi atas segenap manusia lainnya (bahwa risalah ini telah diteruskan dan ditunjukkan kepada mereka). Beruntunglah bagi mereka yang Muslim dan berada dalam rantai  risalah Tauhid Nabi Ibrahim, dalam penegakan nubuwah di bumi. Dikuatkan lagi dengan QS. 2:143)

  1. Umat Pertengahan (Penyaksi) (QS. Al-Baqarah [2]: 143)
2143

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu umat pertengahan (wasathan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…”

Ayat ini memperkuat fungsi kesaksian (syahadah) dan menetapkan Kamu (setelah menjadi MUSLIM) sebagai ummatan wasathan (menjadi saksi atas umat atau manusia selanjutnya). Status ini dijamin hanya jika mereka memenuhi fungsi kesaksian yang diturunkan dari Rasulullah SAW.

  1. MUSLIM = Menyerahkan diri…. (QS. Ali ‘Imran [3]: 52 dan MUSLIM = Memeluk Islam (QS. Al-An’am [6]: 125)
  • Menyerahkan Diri (kepada Sistem Islam) (QS. 3:52):
352

“…Berkata Hawariyyun: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri (Muslimun).” Keberuntungan adalah berserah diri.

  • Memeluk (Membuka Dada) Islam (QS. 6:125):
6125

“Barang siapa yang Allah kehendaki akan memberinya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah menjadi sesat, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” Keberuntungan adalah terbukanya hati menerima Islam.

  • Doa dan Harapan setelah menjadi Muslim  (QS. 3:53):
353

 “Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang Engkau turunkan dan kami telah mengikuti Rasul, karena itu tetapkanlah kami bersama golongan orang yang memberikan kesaksian.

B. Tugas ‘Rasul-rasul’ (Pewaris Risalah/Da’i/Murabbi) Pasca-Nabi SAW

Meskipun Nabi Muhammad SAW adalah Rasul terakhir (Khatamun Nabiyyin), tugas-tugas inti kenabian (membacakan ayat, mensucikan jiwa, mengajar) dilanjutkan oleh para pewaris atau pelanjut misi risalah (yang mengemban tugas estafeta syahadat).

  1. Membacakan Ayat-ayat Allah (QS. Ali ‘Imran [3]: 164 & QS. Al-Baqarah [2]: 151)

(QS. 3:164):

3164

“Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah, padahal sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

(QS. 2:151):

2151

“Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Qur`an) dan Hikmah (Sunah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.

Tugas Inti: Tugas ini menjadi pola dasar yang harus diulang oleh pewaris risalah: membacakan (menyampaikan informasi), mensucikan (dari Syirik), dan mengajarkan (memberi pemahaman).

2. Mensucikan Jiwa dari Syirik (QS. Ar-Ra’d [13]: 30)

1330

“Demikianlah, Kami telah mengutusmu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka (Al-Qur’an) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah…”

Fokus: Meskipun konteks langsungnya adalah Nabi Muhammad SAW, inti dari pembacaan risalah ini adalah mengajak manusia kembali kepada Tauhid dan menjauhi syirik, yang merupakan inti dari penyucian jiwa (Tazkiyah) agar amal tidak sia-sia (QS. 9:17).

 

  1. Mengajarkan Al-Kitab dan Hikmah (Pilar Kedua Pendidikan)

Sebagaimana termuat dalam QS. 3:164 dan 2:151, mengajarkan Al-Kitab (hukum dan perintah) dan Hikmah (pemahaman mendalam atau sunnah) adalah peran mendasar seorang pembimbing (Rasul/pewaris risalah).

 

  1. Tujuan Pengutusan/pembimbingan/supervisi : Menyingkap dengan jelas antara orang berdosa dan orang saleh (QS. Al-An’am [6]: 55)
655

“Dan Demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Qur`an, (agar terlihat jelas jalan orang-orang yang saleh) dan agar terlihat jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa.”

Peran Supervisi (Klarifikasi Status): Inilah titik di mana peran pewaris risalah. Risalah berfungsi sebagai alat pembeda (furqan). Melalui penyampaian ayat-ayat, batas antara Orang Saleh (yang bersyukur, beruntung) dan Orang Berdosa (yang kafir, merugi) menjadi jelas (tastabīna).

Urgensi Supervisi: Seperti yang dijelaskan, risalah (dalam bentuk dakwah dan bimbingan) membantu memvalidasi status individu. Manusia tidak bisa lagi bersembunyi di balik alasan buta (QS. 7:173), karena petunjuk telah disampaikan oleh pewaris atau pembawa misi risalah.

  1. Kesesuaian Rasul dengan Obyek Dakwah (QS. Al-Isra [17]: 94-95)
1794
1795

Jika yang tinggal di bumi itu adalah malaikat, niscaya Allah akan mengutus malaikat pula sebagai Rasul. Karena yang tinggal di bumi adalah manusia, maka Rasul yang diutus adalah dari golongan manusia sendiri.”

Implikasi: Rasul diutus dari golongan manusia agar:

– Manusia tidak memiliki alasan (karena Rasul memiliki kebutuhan dan sifat yang sama).

– Rasul dapat menjadi teladan hidup (uswah hasanah) yang dapat diterapkan dan diikuti oleh manusia secara praktis.

Ciri-Ciri para rasul / pelanjut misi risalah:

Ciri Utama

Sumber Ayat

Nilai yang Harus Dimiliki

Tidak Minta Upah

QS. 11:29, 51; QS. 12:104; QS. 6:90

Ikhlas (Ketulusan Mutlak)

Dinyinyiri/Diejek

QS. 23:24; QS. 52:30; QS. 37:36; QS. 15:11

Shabr (Kesabaran dan Ketahanan Mental)

Didustai

QS. 3:184

Tsabat (Keteguhan dalam Menyampaikan Kebenaran)

 

Tambahan : 

Allah Ta’ala dengan kasih sayang dan hikmah, telah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab sebagai petunjuk-Nya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, QS. An-Nisaa : 165 :

4165

“Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah Rasul-rasul itu diutus. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana” .

Di dalam kitab Zubdatut Tafsir min Fathil Qadir disebutkan, “Maksudnya adalah sebagai alasan untuk diajukan hujah, sebagaimana dalam firman-Nya, QS. Thahaa : 134

20134

“Dan kalau mereka Kami binasakan dengan suatu siksaan sebelumnya (Al-Qur`an diturunkan), tentulah mereka berkata, “Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, sehingga kami mengikuti ayat-ayat-Mu sebelum kami menjadi hina dan rendah?”

 

Alasan Allah mengutus para rasul, juga di sampaikan dalam hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, dalam Sahih Muslim 2760 :

 لَا أَحَدَ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ، وَلِذَلِكَ حَرَّمَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَلَا أَحَدَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْمَدْحُ مِنَ اللهِ، وَلِذَلِكَ مَدَحَ نَفْسَهُ، وَلَا أَحَدَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعُذْرُ مِنَ اللهِ، مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ بَعَثَ الْمُبَشِّرِينَ وَالْمُنْذِرِينَ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, : “Tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah, karena itulah Dia mengharamkan perbuatan-perbuatan keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi. Dan tidak ada seorang pun yang lebih menyukai pujian daripada Allah, karena itulah Dia memuji diri-Nya sendiri. Dan tidak ada seorang pun yang lebih menyukai pemberian udzur (alasan/argumen pembelaan bagi hamba-Nya) daripada Allah, karena itulah Dia mengutus para pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.”

Allah Ta’ala juga tidak akan menyalahkan siapapun dan tidak akan menghukumnya kecuali setelah tegaknya hujah dan sampainya syariat kepadanya. Sebagaimana firman-Nya, (QS. Al-Isra’: 15):

1715

“……. tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul.”

Syekh Abdurrahman As-Sa’di Rahimahullah di dalam tafsirnya mengatakan,

“Allah adalah Dzat yang paling adil. (Allah) tidak akan mengazab seseorang sehingga hujah tegak atasnya melalui risalah. Kemudian orang itu (merespon dengan) menentangnya. Adapun orang yang tunduk dengan hujah atau belum sampai hujah Allah kepadanya, maka Allah tidak akan mengazabnya. Ayat ini dijadikan dalil bahwasanya Allah tidak akan mengazab ahlul fathrah (orang-orang yang hidup di masa transisi kenabian) dan anak-anak kaum musyrikin (yang meninggal sebelum dewasa), sampai Dia mengutus seorang rasul kepada mereka. Karena sesungguhnya Allah itu suci dari segala bentuk tindak aniaya.”

 

Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman, (QS. At-Taubah: 115):

9115

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka sehingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” 

Ibnu Katsir Rahimahullah berkata,

“Allah Ta’ala menceritakan perihal diri-Nya Yang Mahamulia dan hukum­-Nya yang adil. Sesungguhnya Dia tidak akan menyesatkan suatu kaum, melainkan sesudah disampaikan kepada mereka risalah dari sisi-­Nya. Sehingga hujah telah ditegakkan atas mereka. Seperti yang di­sebutkan di dalam firman-Nya, (QS. Fushshilat: 17)

4117

“Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk. Akan tetapi, mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.” 

Oleh karena itu, orang yang belum sampai kepadanya risalah Islam atau telah sampai kepadanya risalah Islam namun belum mukallaf (siap menerima pembebanan suatu kewajiban), maka keduanya termasuk orang yang uzurnya diterima dan dimaafkan. Sebagaimana disebutkan dalam hadis,

“Ada empat jenis orang yang akan mengajukan banding pada hari kiamat nanti, yakni:

(1) orang tuli yang tak dapat mendengar sesuatu pun;

(2) orang dungu atau gila;

(3) orang tua renta lagi pikun; dan

(4) orang yang meninggal pada zaman fatrah.

Orang yang tuli berkata,’Ya Tuhanku, Islam datang namun aku tak mendengar sesuatu pun tentangnya.’

Orang yang dungu berkata,’Ya Tuhanku, Islam datang, namun anak-anak kecil melempariku dengan kotoran hewan.’

Orang tua renta lagi pikun berkata, ‘Ya Tuhanku, sungguh Islam telah datang, namun aku tidak mengerti/paham.’

Orang yang mati di zaman fatroh berkata, ‘Ya Tuhan, Rasul-Mu tidak mendatangiku.’

Lalu diambillah perjanjian dengan mereka untuk diuji. Kemudian akan diutus seorang utusan (Rasul) kepada mereka yang memerintahkan untuk memasuki api. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya mereka masuk ke dalam api tersebut, niscaya mereka akan merasakan dingin dan selamat (dari azab).” (HR. Ahmad dan Thabrani. Ibnul Qoyim menyatakan sanadnya sahih bersambung, dan disahihkan Al-Albani dalam As-Shahihah, no. 1434)

Allah sangat suka memberikan “pembelaan” bagi hamba-Nya. Karena Allah Maha Adil (Al-‘Adl), Dia tidak akan menyiksa seseorang yang:

  1. Fisiknya tidak memungkinkan (Tuli/Bisu total sejak lahir).
  2. Akalnya tidak berfungsi (Gila/Dungu).
  3. Waktunya sudah habis (Pikun/Haram).
  4. Informasinya tidak sampai (Zaman Fatrah).

An-Nawawi Rahimahullah berkata, “Dari pemahaman hadis ini, menunjukkan bahwa siapa saja yang tidak sampai kepadanya dakwah Islam, maka ia diberikan uzur dan dimaafkan”

Adapun yang sudah mendengar tentang dakwah ini, namun tidak beriman dan menghiraukan dakwah ini serta lebih memilih kesyirikan dan kekufuran, maka mereka tidak dimaafkan dan tidak diberikan uzur.

Tambahan:

Islam sebagai Ad-Dinul Wahid (Agama yang Satu), di mana Islam bukanlah agama baru yang dimulai dari zaman Nabi Muhammad SAW, melainkan sebuah estafet risalah yang dibawa oleh seluruh Nabi sejak Nabi Adam AS. Hal ini nampak jelas dari sabda Rasulullah ﷺ yang menjelaskan posisi beliau di antara para Nabi sebelumnya. Beliau bersabda:

“Perumpamaanku dan Nabi sebelumku seperti seseorang yang membangun sebuah bangunan, lalu ia memperindah dan mempercantiknya, kecuali ada satu tempat untuk satu batu bata di salah satu sudutnya. Orang-orang mengelilinginya dan merasa kagum seraya berkata: ‘Mengapa batu bata ini tidak dipasang?’ Maka akulah batu bata itu, dan akulah penutup para Nabi.” (HR. Bukhari No. 3535 & Muslim No. 2286)

Maknanya: Seluruh Nabi membangun pondasi dan struktur yang sama, yaitu Tauhid (Islam). Nabi Muhammad ﷺ hadir bukan untuk merobohkan bangunan lama, melainkan untuk melengkapi bagian yang belum sempurna hingga bangunan itu menjadi utuh dan berlaku bagi seluruh umat manusia hingga akhir zaman. Penjelasan ini juga memperkuat bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah bagian dari estafeta misi risalah dengan syahadah sebagai pernyataan untuk menjadi MUSLIM, sehingga terjadilah estafeta syahadah yang terus berkelanjutan hingga akhir jaman, atau selesainya misi risalah.

Beberapa ayat Al Qur’an membuktikan bahwa identitas “Muslim” dan “Islam” sudah melekat pada para Nabi dan pengikutnya jauh sejak sebelum Rasulullah ﷺ lahir:

  • QS. Ali ‘Imran (3): 67, bahwa islam sebgai karakteristik Nabi Ibrahim AS.

“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi MUSLIM (berserah diri kepada Allah)…” Ayat ini membantah klaim golongan tertentu dan menegaskan bahwa esensi ajaran Nabi Ibrahim adalah Islam.

  • QS. Al-Baqarah (2): 132, Wasiat Nabi Ibrahim AS, untuk keuunannya

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): ‘Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan MUSLIM‘.” Islam adalah warisan iman yang dijaga turun-temurun dari Nabi Ibrahim hingga Nabi Ya’qub.

  • QS. Yusuf (12): 101, Do’a Nabi Yunus di puncak kekuasaannya

Wafatkanlah aku dalam keadaan MUSLIM dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” Permohonan ini menunjukkan bahwa “Muslim” adalah derajat tertinggi yang diinginkan oleh seorang Nabi.

  • QS. Al-Jin (72): 14, Bahkan Jinpun ada yang Muslim

“Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang Muslim dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran…” Islam adalah risalah universal yang mencakup alam manusia dan alam jin sejak dahulu.

  • QS. Yunus (10): 90, penyesalan Fir’aun

Saat hampir tenggelam, Fir’aun berkata: “…dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri (Muslim).” Meskipun terlambat, kata “Muslim” digunakan Fir’aun karena ia tahu itulah standar keselamatan yang dibawa Nabi Musa.

  • QS. Al-A’raf (7): 126, penyesalan para tukang sihir Fir’aun

Tukang sihir Fir’aun yang bertaubat berdoa: “…dan wafatkanlah kami dalam keadaan Muslim.”

Kesimpulan:

Solusi dari kerugian kekufuran adalah memasuki Estafeta Syahadat yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW. Dengan menjadi Muslim, individu menerima supervisi spiritual dari pewaris risalah yang membacakan ayat, membersihkan jiwa, dan mengajarkan hikmah, sehingga status mereka menjadi orang saleh, menjadi jelas statusnya dan terhindar dari kesia-siaan amal sebagai orang berdosa.

Lanjutkan ke halaman selanjutnya untuk memahami, akibat menerima seruan rasul dan yang menolaknya.

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Email
Telegram
Ingin mendapatkan Pahala Jariyah dengan berbagi? Silahkan share ke SOSMED Anda…