Siang itu, matahari sedang terik-teriknya, sekitar pukul 12.30 WIB. Langkah saya terhenti di sebuah masjid di pinggir jalan untuk menunaikan shalat Dhuhur. Sayangnya, saya terlambat 30 menit dari shalat dhuhur berjama’ah. Namun di area serambi masjid, Ketika selesai berwudhu, saya melihat dua pemuda berwajah ramah tengah menunggu seseorang untuk diajak shalat berjamaah.
“Mari bergabung dengan kami, Pak. Silakan menjadi imam kami,” sapa salah satu dari mereka dengan sopan.
Shalat pun berlangsung dengan sangat khusyuk. Seusai berdzikir, kami saling melempar senyum dan berjabat tangan. Momen hangat ini saya manfaatkan untuk mengobrol dan berkenalan lebih dekat dengan mereka yang ternyata bernama Ridho dan Rhoma (maaf bukan nama sebenarnya, ya).
*****
Dialog Ringan Penuh Makna
“Kuliah di mana, Dek?” tanya saya membuka percakapan saat kami sama sama berdiri dan menuju teras masjid.
“Kami kuliah di Kampus UGD, Pak. Kebetulan kami satu angkatan dan satu jurusan,” jawab Rhoma ramah.
“Wah, lumayan dari sini ya. Ada acara apa siang-siang begini di sekitar sini?” tanya saya penasaran.
Ridho menimpali, “Kami baru saja selesai mengikuti kajian di gedung sebelah sana, Pak. Temanya sangat menarik, Mengenal Allah Lebih Dekat, yang dibawakan oleh Ustadz Anwar Sholahuddin”
“Masya Allah, beliau memang penceramah yang luar biasa, saya juga senang mendengar ceramahnya. Sayang terlambat kesini, Bolehkah saya tahu sedikit poin penting atau ilmu yang didapat dari kajian tadi?” puji saya.
Ridho pun dengan semangat menceritakan kembali isi materi kajian yang baru saja mereka dengar. Penjelasannya sangat bagus, namun saya melihat ada ruang untuk memperkaya pemahaman mereka.
“Luar biasa sekali ulasannya! Boleh saya tambahkan sedikit agar kita bisa berdiskusi lebih seru?” tawar saya.
“Silakan, Pak!” jawab Rhoma antusias.
*****
Intisari Surat Al-Fatihah dan Pilar Tauhid
Saya pun mulai menjelaskan dengan bahasa yang sederhana bahwa semua bekal untuk mengenal Allah sebenarnya sudah terangkum lengkap di dalam Surat Al-Fatihah. Minimal kita membaca 17 kali dalam Shalat wajib. Surat ini bukan sekadar bacaan shalat, melainkan induk dari seluruh isi Al-Qur’an.
Berikut adalah empat pilar tauhid dalam Al-Fatihah yang saya bagikan kepada mereka:
- Tauhid Rububiyyah: Mengakui Allah sebagai satu-satunya pencipta, pengatur, dan pemelihara alam semesta, diambil dari ayat “Rabbil ‘aalamiin”.
- Tauhid Uluhiyyah: Menegaskan bahwa hanya Allah satu-satunya Dzat yang berhak disembah dan dimintai pertolongan, diambil dari ayat “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin”.
- Tauhid Asma’ wa Shifat: Menetapkan nama-nama indah dan sifat-sifat Allah yang maha sempurna, diambil dari ayat “Al Hamdulillah”.
- Tauhid Mulkiyyah: Mengakui kemaharajaan dan kepemilikan mutlak Allah atas segala urusan, terutama sebagai penguasa tunggal pada hari pembalasan kelak, diambil dari ayat “Maaliki yaumiddiin”. Di hari itu, tidak ada satu pun makhluk yang memiliki otoritas selain diri-Nya.
Selain itu, kalimat “Ihdinash shiraathal mustaqiim” mengajarkan kita untuk selalu memohon petunjuk jalan yang lurus berupa ilmu dan kekuatan untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk poin ini nanti kita bahas lebih detail, Inshaa Allah di lain kesempatan ya.
*****
Korelasi Indah: Pembuka dan Penutup Al-Qur’an
Melihat keduanya mendengarkan dengan serius, saya memberikan sebuah analogi penutup yang mengunci pemahaman mereka.
“Ada satu rahasia struktur Al-Qur’an yang sangat indah, Dek,” kata saya. “Pernahkah kalian merenungkan hubungan antara Surat Al-Fatihah sebagai pembuka dan Surat An-Nas sebagai penutup?”
Mereka saling berpandangan dan menggelengkan kepala. Saya pun tersenyum dan melanjutkan ulasan simetris ini, saya mengeluarkan kertas dan pena untuk menggambarkan hubungan kedua Surat tersebut:
- Saling Menjawab dan Menyempurnakan: Al-Qur’an diawali dengan Al-Fatihah yang berisi doa meminta petunjuk ke jalan yang lurus (“Ihdinash shiraathal mustaqiim”), sedangkan An-Nas diletakkan di akhir sebagai tameng perlindungan agar kita tidak keluar dari jalan lurus tersebut akibat godaan setan.
- Penyebaran Sifat Tauhid yang Selaras: Di dalam Al-Fatihah, Allah memperkenalkan diri-Nya melalui tiga sifat utama, yaitu: Rabb (Tuhan/Pencipta), Malik (Penguasa/Raja), dan Ilah (Sembahan, tersirat dari kata Na’budu). Uniknya, tiga sifat tauhid ini diulang kembali secara berurutan dan tegas pada awal Surat An-Nas sebagai benteng perlindungan:
- Bi Rabbin-Naas (Tauhid Rububiyyah).
- Malikin-Naas (Tauhid Mulkiyyah).
- Ilahin-Naas (Tauhid Uluhiyyah).
Sambil saya tunjukkan sebuah gambar berikut ini, dari HP saya:
“Jadi, Al-Qur’an dibuka dengan pengenalan siapa Tuhan kita melalui tauhid, dan ditutup dengan penegasan bahwa hanya kepada Tuhan yang memiliki tiga sifat itulah tempat kita pasrah dan berlindung. Ini adalah sebuah lingkaran kesempurnaan iman,” tambah saya.
*****
Mendengar penjelasan tersebut, mata kedua pemuda itu berbinar. “Masya Allah, kalau penjelasan versi Bapak ini rasanya jauh lebih lengkap dan membuka pikiran kami! Hubungan antar suratnya terasa sangat masuk akal,” seru Ridho kagum.
Melihat antusiasme mereka yang begitu besar, saya tersenyum lalu menunjukkan sebuah situs dari Google Chrome.
“Nah, kalau kalian ingin membaca ulasan yang jauh lebih dalam, praktis, dan runtut buka situs adahijrah.my.id,” kata saya sambil menunjukkan salah satu artikel utama tentang shalat. “Di sana ada artikel bagus sekali tentang rahasia dan keutamaan shalat yang ditulis dengan sangat simpel.”
Atau dapat juga dari Saluran WA ini biar lebih mudah. Saya buka QRIS dan mereka kemudian mengarahkan kamera ponselnya ke HP saya dengan penuh semangat.
“Bapak, kami masih ingin belajar banyak nih dari Bapak. Apakah kita bisa melanjutkan mengobrol lagi di lain waktu? ” tanya Rhoma berharap.
“Tentu saja. Bagaimana kalau kita atur jadwal ketemuan lagi?” jawab saya menyambut baik.
“Kebetulan minggu depan kami ada kegiatan di Depok, Pak. Bagaimana kalau kita bertemu di Masjid Ukhuwah Islamiyah (UI) Depok? Tempatnya sangat tenang dan nyaman untuk diskusi,” usul Rhoma.
“Boleh, pilihan tempat yang bagus sekali. Insya Allah, saya akan siapkan materi berikutnya yang tidak kalah seru di sana,” jawab saya.
Kami pun akhirnya sepakat untuk bertemu kembali di Masjid UI Depok untuk melanjutkan diskusi agama yang lebih spesifik. Sebuah pertemuan singkat di tepi jalan yang berujung pada ikatan silaturahmi yang indah.
***** Teras Masjid, Depok
